BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

Kamis, 14 Mei 2009

Kopi dan Rokok



Secangkir kopi, sebatang rokok…….wah…..enak tenaaaan, itulah kenyataan yang terjadi dalam diri orang2 yang memang hoby banget sama rokok dan kopi. Merokok kalau tidak ngopi seperti suami tanpa istri, kurang komplit, apalagi ada temennya, pisang goreng anget, atau mendoan anget, ya….apa saja yang anget2 mesti enak, orang banyumas bilang lawuh medang. Lho…kok jadi nglantur ya….


Rokok dan kopi memang masih menjadi polemik, ada yang bilang haram, ada yang berpendapat mubah, atau ,maksimum hukumya makruh. Kalangan yang mengharamkan berdalih merusak kesehatan, mudlorothnya lebih banyak dari pada manfaatnya. Yang tidak mengharamkan mengajukan pendapatnya bahwa merokok itu merusak kesehatan adalah baru dugaan semata, belum pasti, karena ada orang merokok ya…sehat2 saja, ada yang tidak merokok malah jantungen, malah ada yang merasa rokok itu wajib baginya, karena kalau tidak merokok badannya menjadi lemah pikirannya kurang cling…


Lha…….terus kepriwe kiye (orang banyumas nih). Saya jadi ingat pepatah lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, dalam bahasa jepang juga ada tuh..十人十色 (juu nin to iro) artinya sepuluh orang sepuluh warna, bahasa banyumase liya uwong liya gundule he….he….pokoknya masing2 orang itu lain-lain, selera lain, hoby lain, nasibnya lain, cita-citanya juga lain2.


Saling menghargai, saling nguwongke, saling menghormati, tepo seliro, itu kuncinya…ini yang harus menjadi pegangan kita apabila kita ingin kehidupan bermasyarakat kita harmonis dan bahagia. Sing ora ngrokok ya, jangan menjelekkan yang merokok, sing ngrokok ya..aja perek2 sing ora ngrokok. Nek kabeh ora merokok banyak pengangguran, lha..piye wong pabrik rokok podo bangrut, negara banyak kehilangan pemasukan, para dokter ya…kurang pendapatannya, ngono wae kok repot….kata KH. Abdurochman Wahid.


Suatu sore saya lagi ngopi di perusahaan tempat saya bekerja dan saya ambil foto secangkir kopi dan sebatang rokok sebelum saya sruput…ee…lha…sehari berselang pas saya ngaji..guru gaji saya mengeluarkan kitab terjemahaan karangan assyaikh Ikhsan Jampes alKadiri, yang judule Kopi dan Rokok…jan pas banget, maka saya posting tulisan ini…semoga bermanfaat.



Minggu, 10 Mei 2009

Sang Pemberi dan Pemberian


Saya jadi terusik untuk menulis masalah yang agak pelik ini gara-gara ngebaca blognya pak Teguh Sexy sing judule rejeki. Masing-masing hamba berbeda-beda dalam memaknai apa itu rejeki, tergantung ilmu, pengalaman pribadi, dan hidayah yang diberikan oleh Gusti Allah kepada hamba-hambanya. Pendeknya bahwa kita mesti sepakat bahwa rejeki itu adalah pemberian.


Berbicara pemberian, maka ada yang diberi dan yang memberikan. Yang memberi adalah Tuhan dan yang diberi adalah hamba. Ada orang yang mengganggap bahwa rejeki itu adalah jering payah, atau hasil usaha, atau ikhtiar hamba. Padahal esensinya rejeki adalah pemberian. Ada crita orang Jepang yang mengandalkan akalnya menegur kepada anak buahnya, kamu ya…kalau sembayang tepat waktu, tapi giliran kerja tidak bisa tepat waktu, memangnya yang menggaji kamu itu Tuhanmu, itu adalah usahamu, jadi kalau kamu rajin kamu naik pangkat, naik gaji dan sebagainya dan sebagainya, sepertinya masuk akal kan……bahwa rejeki itu sepertinya jerih payah atau ikhtiar kita, memang ujudnya adalah ikhtiar tapi esensinya adalah pemberian atau jatah dari Yang Maha Kuasa.


Kalau rejeki itu adalah ikhtiar, atau jerih payah, coba kita ajukan pertanyaan berikut ini : kenapa ada orang yang sama-sama berikhtiar kok hasil akhirnya berbeda. Kalau majunya perusahaan adalah karena pintar dan rajinya karyawan yang dibanggakan orang Jepang itu, kenapa ada perusahaan-perusahaan Jepang yang bangkrut? Ya…….karena memang rejeki itu sudah diatur…..kita dijalankan oleh Yang Maha Kuasa sesuai dengan takdir yang sudah ditentukanNya, profesi kita, pendapatan kita, pengeluaran yang mesti kita tanggung, dan lain-lain sudah diatur.


Kebanyakan dari kita lebih senang melihat ujud pemberian itu sendiri atau kita lebih suka kepada rejeki itu, bukan kepada yang memberi rejeki itu yaitu Yang Maha Memberi. Coba kita pakai akal batin kita andaikata Sang Pemberi itu adalah istri atau suami kita (tentu Tuhan tidak sama dengan makhluk) yang paling kita cintai, mana yang lebih kita pilih pemberiannya atau istri/suami kita. Apakah kita rela bila suami/istri kita sudah memberi sesuatu pada kita lalu suami/istri kita tidak pulang ke rumah kita? Tentu kita memelih suami/istri kita sebagai pribadinya. Memang kalau bisa ya…pemberiannya ya…orangnya.


Bagaimana bila kita membelikan anak kita sepeda, agar dia tambah rajin belajar, tambah rajin sholat, tambah taat pada orang tuanya, sementara si anak malah sibuk dengan sepedanya, lupa belajar, lupa sholat, jika disuruh membangkang, tentu kita akan marah. Dan Tuhan pasti lebih marah dapi pada hambanya, karena Tuhan itu Maha Kuasa, Maha Perkasa.


Salah satu kiat untuk tahan menghadapi cobaan hidup, himpitan hidup, kacaunya suasan, carut marutnya system perekonomian, amburadulnya keadaan sekarang ini adalah kita mesti memandang siapa yang memberi cobaan, bukan cobaan itu sendiri. Walaupun ujud pemberianNya kurang baik, tapi yang memberikan adalah yang paling kita cintai, maka akan terasa ringan cobaan itu. Dan semua cobaan ada hikmahnya, tapi kadang kita tidak bisa melihat hikmah dibalik cobaan.


Itulah inti sari dari buku Mengapa harus berserah, karangan Ibn Athaillah, kita mesti menggunakan mata hati, bukan akal kita yang sebenarnya kemampuan akal kita sangat terbatas, sedangkan kemampuan hati nurani tanpa batas…….wasalam

Sabtu, 09 Mei 2009

Nilai Sebuah Karya


Pagi ini, sabtu pas liburan waisak, seperti biasanya saya antar istriku tercinta ke pasar Sokaraja, kebetulan anak perempuan saya minta dibelikan pithi (jawa), atau cething, aduh……bahasa Indonesianya apanya, pokoknya tempat nasi yang terbuat dari bamboo, katanya mau untuk perlengkapan menari. Dulu waktu aku masih kecil hampir semua orang memanfaatkannya sebagai tempat nasi,tapi belakangan posisinya sudah tergeser oleh bahan dari plastik.


Begitu sudah selesei beli ini itu, tiba saatnya saya cari pithi titipan anak saya, ada sebuah los yang spesial menjual peralatan dapur, ada yang terbuat dari bamboo, kayu, logam pokoknya komplitlah. Saya terkejut mendengar harga yang ditawarkan oleh sang penjual….Rp 2500. Padahal dibenak saya ya..kira-kira Rp 10.000 an, begitu sudah kita bayar, istri saya yang guru kesenian dengan nada agak kecewa berkomentar kok…murah banget yo…..dia agak kurang rela jika sebuah karya “seni” pithi sang tempat nasi itu dihargai semurah itu. Terus dibayangkan cara membuatnya, waktu yang diperlukan untuk menyeleseikan sebuah pithi, wah terlalu, katanya. Terus, kira-kira berapa harga beli pedagang dipasar, atau tengkulak, atau agen yang diberikan si pembuat pithi itu, kira-kira Rp. 1.500 an.


Ini memang ironis, pantas bila perekonomian rakyat pedesaan, yang petani, yang pengrajin dan lain-lainya itu selalu terpuruk. Para pengrajin memang tidak bisa membayar biaya promosi di televisi, diradio, dikoran-koran. Mereka selalu menjadi korban tengkulak, para pedagang antara. Bagaimana dengan pithi modern yang menggunakan setrom alias magicjar, yongma, miyako, phillip, mereka gencar berpromosi, karena memang dia punya modal.


Saya jadi teringat tetangga saya dikampung yang banyak membuat besek dari bamboo, itupun harganya juga murah sekali. Dipabrik yang sekarang saya bekerja juga membuat semacam besek, tapi terbuat dari kayu yang diekspor ke Jepang. Disana untuk tempak mie, tempat ikan dan lain-lain, saya pikir harganya tidak murah amat dan sekali pakai dibuang.


Besek dan pithi mengusik pikiranku, hokum ekonomi, ekonomi pasar bebas, pemodal raksasa memegang kendali persaingan, ya…persaingan ekonomi global, akankah kita rela barang asing membanjiri system pasar kita, pemain lokal hanya gigit jari menjadi korban iklan, padahal barang-barang asing itu belum tentu baik dari segi apapun. Kelihatannya persaingan itu sudah mulai, dan hasil akhir persaingan itu kita semua sudah bisa membayangkan siapa yang bakal kalah…..lihatlah pasar modern sudah berjajar rapat menutupi pasar-pasar local, kalau bukan kita kira-kira siapa yang akan membantu saudara kita…..

Kamis, 07 Mei 2009

Sarung Sang Penyelamat


Tahun 1992, aku berkesempatan mengunjungi negeri matahari terbit atas kebaikan Saito san, pemilik perusahaan SAITO WOOD CRAFT,Co Ltd. Dengan modal nihon go (bahasa jepang) yang pas-pasan aku nekat berangkat sendiri ke Jepang.


Nihon ha kirei desu ne…itu kesan pertamaku begitu aku mendarat di Nagoya, memang Jepang betul-betul bersih, indah dan masyarakatnya ramah, seperti layaknya negara-negara timur yang terkenal penduduknya ramah.


Waktu masuk di airport Nagoya tidak ada masalah, paling dikasih tunjuk gambar pistol, obat-obat terlarang, dengan modal geleng kepala saja aku sudah lolos dari pemeriksaan, aman…


Satu bulan di Jepang seperti sebentar, Saito san memang baik, aku diajak ke Tokyo, Tokyo ha nihon no suuto desu, ya…ibukota Jepang. Dengan hato basu, keliling Tokyou, Tokyo Tower sing duwure amit-amit 360 m, makan siang di aksasa hotel juga gedung sing duwur banget sampai lihat gedung sebelah seperti bergoyang-goyang. Tokyo kaya Jakarta, gedung tinggi-tinggi, mobil banyak, orang penuh. Tokyo ha ookina machi desu.


Aku juga berkesempatan keliling Kyoto, kota tua yang bersejarah, banyak kuil kuno, peninggalan sejarah Jepang lainya. Karena waktu itu bertepatan dengan piknik bareng-bareng sesama karyawan Saito Wood Craft, nginep rame-rame di Kyoto.


Waktu itu bulan juli, hujan dan cuaca puaaanas tenan, kalau aku pulang ke apartemen, ya…..kos-kosan gitu ajalah, suhu dikamar bisa mencapai 45 derajat celcius, maklum gak pakai AC, kelas ekonomi pas-pasan. Makanan wah….susah ya…sasimi ha amari suki janai ne….tapi aku pesen sama bos, pokoknya jangan yang pakai buta niku alias daging babi, haram…Sholat merupakan satu persoalan tersendiri, masjid susah dicari, waktu subuh sudah masuk sekitar jan 2 dini hari, magrig jam 8 malam.


Waktu pulang telah tiba, ya…walaupun diJepang memang indah, bersih, tapi rindu kampung halaman tak bisa kubuang begitu saja, apalagi waktu itu anak saya yang pertama baru berumur satu tahunan, kuangen tenan, anak, istri, makan jawa, maklum wong jowo…


Begitu mendarat di Ngurah Rai airport, Denpasar hatiku plong banget, tapi juga dag-dig-dug. Plong karena sudah sampai tanah air, dag-dig-dug karena dari beberapa info sebelumnya di Denpasar bea cukainya galak-galak, aku bawa banyak barang dari omiage temen-temen diJepang, jangan-jangan kena pajaklah atau dipersulitlah. Tapi semua itu tak terjadi,…..begitu orang bea cukai buka tas pertama saya…dia lihat sarung saya……entah karena ambune..atau dia pikir aku orang kampung, aku nggak ngerti tiba-tiba dia meloloskan semua barang bawaan saya tanpa pemeriksaan lebih lanjut, sarungku menyelamatkan pemeriksaan. Terima kasih banyak ya….sarung……

Sabtu, 25 April 2009

SDM yang Terbalik....


Saikin (baru-baru ini) aku mendapat email cekak dari kolegaku, begini bunyinya クレームです。Kata ini paling kubenci dalam hidupku, betapa tidak kata itu (kureemu desu) artinya ada masalah yang mesti dihadapi. Ada hal yang tidak beres dengan tulisan pada kotak makanan yang kukirim ke negeri matahari terbit sono..

Ternyata tulisannya terbalik, memang jumlahnya tidak banyak tapi ada yang terbalik, itupun sudah menjadi masalah, dulu ada kaminoke alias rambut, kalau orang jawa didalam makanan ada rambut apalagi kalau rambutnya panjang malah senang karena umurnya akan panjang seperti rambut itu. Kalau orang Jepang ketemu rambut wah...wah... komarimasu...ne...

Ada kenalan orang Jepang namanya Iwasa san, dia sudah lama tinggal di Indonesia, dia senang mengucapkan kata-kata Indonesia, malah kata-kata Jawa, ojo dumeh, gotong royong, mangan ora mangan waton kumpul, alon-alon waton kelakon, dan salah satunya SDM.....bukan SGM. Kalau sudah menyebut SDM semangatnya minta ampun, kalau kita bicara SDM di Indonesia memang secara jujur masih jauh, terutama pada diri saya sendiri dan kelompokku, lah..bikin barang masih bisa kuwalik walik, seperti dunia ini wis terbalik...sing lanang seperti wong wadon, sing wadon koyo wong lanang, tapi herannya gak ada yang komplain.... sedang aku kuwalik sedikit aja..クレームです、 wah....こまります ne......

Yah... memang tidak boleh terbalik, kalau terbalik ada resikonya, dan resiko itu ditanggung penumpang, makanya enak jadi sopir biar tidak nanggung resiko. Kata kuncinya bangkit... jangan menyerah dengan masalah, kita mesti hadapi masalah dengan semangat perbaikan, kita menjadi pintar dengan ujian, semangat... semangat...がんばりましょう.........

Senin, 20 April 2009

banyumas oh.. banyumas

ass.wr.wb. hajimemasite
bismilah aku mulai menulis diblogku ini semoga bermanfaat bagiku, keluargaku, temen-temenku dan semuanya. Akhirnya aku didamparkan disebuah kota yang andai sungguhan sesuai makna harafiahnya pasti semua orang memilih tinggal dikota dimana aku didamparkan, yaitu Banyumas. Memang Banyumas adalah kota yang nyaman, damai, cuacanya sangat bersahabat, ke laut dekat ke gunung dekat ke Jakarta dekat, ke Jogja yo.. cerak. pokoe singkat kata Banyumas memang nyuaaaman tenan.

Saya katakan aku didamparkan ya.. memang kenyataanya begitu sebab aku kuwalat.. ndadak awalnya aku sengit banget sama wong Banyumas, yang bahasanya ngapak-ngapak. Dulu waktu aku kost di Jogja aku ngumpul sama temen cewek asal Banyumas (bukan kumpul kebo lho..) maksude sak kost-kostan, bahasanya nek dia ngomong bikin pusing, dalam hatiku walaupun wonge uayua.. kaya ngapa nek dia ngomong jadi nggak cantik. Tapi saya sekarang benar-benar jatuh cinta sama Banyumas, kenyataannya terbalik dengan apa yang saya bayangke waktu itu, Banyumas penuh dengan pesona, orangnya ramah, terbuka, semanak. istriku waktu pertama aku boyong ke Banyumas langsung krasan. Terima kasih pada temen-temen yang asli Banyumas yang dulu tak sengiti, sebab njalari aku didamparkan dikotamu.., salam buat BU Yuni, Bu Minarni, Bu Nina sak Adine sing aku kelalen jenenge, juga Bu Atun kowe pada neng endi saiki.Banyumas oh... Banyumas...memang kota yang komplit nek arep gemblung yo... gemblung, nek arep bener yo.. bisa bener sak bener-benere....

Sekian dulu awal postingan saya lain kali tak sambung meneh, aku wis nguantuk...
Tatap masa depan dengan penuh keyakinan, semua akan mudah, gambate kudasai roso kun...